Valentino Rossi menegasan dirinya tak akan berpikir ulang soal keputusannya meninggalkan Ducati meskipun akhir pekan kemarin dia bisa finis kedua dengan motor itu di depan publik tuan rumah di Grand Prix San Marino.
“Sayangnya di MotoGP kami bicara soal musim tahun depan terlalu dini. Jadi kami harus membuat keputusan terlalu dini juga di musim ini, menurut sudut pandangku,” kata Rossi seperti dikutip Crash.net.
Rossi akan kembali ke tim Yamaha musim depan sebagai pasangan Jorge Lorenzo yang sekarang memimpin klasemen.
“Namun tidak ada (pemikiran ulang). Pilihan sudah ditetapkan untuk tahun depan dan sekarang ini sangat penting bagiku untuk berjuang dan memperbaiki motornya, dan meraih hasil bagus dari sekarang sampai akhir, karena itu akan menunjukkan kalau kerja kami bagus,” cetus the Doctor.
“Juga kalau para pembalap lain bisa menggunakan Ducati untuk bersaing denganku (tahun depan), itu hal yang positif.”
Rossi, yang cukup terbantu dengan digunakannya rangka dan lengan ayun motor yang baru di Misano, merendah soal kans dia memenangi lima seri tersisa, namun menegaskan kalau motivasinya akan lebih tinggi lagi.
“Kalau aku bisa menang, itu akan hebat untukku dan juga untuk Ducati,” katanya. “Aku tak tahu karena Lorenzo, (Dani) Pedrosa dan (Casey) Stoner sangat cepat tahun ini.”
Di Misano, Rossi untuk pertama kalinya meraih hasil podium di trek kering bersama Ducati namun dia masih belum mampu mengganggu Lorenzo yang akhirnya juara dengan jarak 4,4 detik.
“Setiap balapan memiliki cerita yang berbeda, namun bisa datang ke sirkuit dengan motivasi hebat dan tahu ada peluang untuk bertarung meraih hasil bagus, semua hal menjadi sangat berubah,” kata Rossi, yang tak pernah sekalipun menjuarai seri sejak bergabung dengan Ducati akhir 2010
racing itu indah
Rabu, 19 September 2012
Tak Ada yang di Nomor satukan di Yamaha pada 2013
Jorge Lorenzo menepis anggapan yang menyebutkan bahwa dirinya akan menjadi pebalap nomor satu di Yamaha pada musim 2013, ketika dia berpasangan dengan pebalap legendaris asal Italia, Valentino Rossi. Pasalnya, tim "Garpu Tala" ini akan memberikan pelayanan yang sama kepada semua pebalapnya.
Musim depan, Lorenzo dan Rossi akan bertarung lagi dengan status rekan setim. Duel yang pernah tersaji antara 2008-2010 ini terjadi lagi, setelah "The Doctor" sepakat untuk menandatangani kontrak berdurasi dua tahun dengan Yamaha sehingga dia akan kembali menunggang YZR-M1.
Kehadiran Rossi menimbulkan sebuah pertanyaan, siapakah yang akan menjadi pebalap nomor satu. Melihat apa yang terjadi sejak Rossi pindah ke Ducati pada akhir 2010, jelas bahwa Lorenzo menjadi anak emas tim Jepang tersebut sehingga Rossi harus menerima kenyataan jika dia menjadi nomor dua. Ini akan menjadi predikat terburuk sepanjang karier juara dunia sembilan kali tersebut di arena balap motor.
Namun Lorenzo, yang bergabung dengan Yamaha pada 2008, tak beranggapan demikian. Juara dunia MotoGP 2010 asal Spanyol ini mengatakan, "Saya tidak pernah merasa seperti saya menjadi nomor dua di Yamaha. Itu tidak menjadi masalah bagiku apa yang orang katakan tentang pebalap nomor satu atau nomor dua. Anda memiliki motor yang sama seperti pebalap lain, dan itu pun tetap sama untuk dua tahun ke depan."
Bos Yamaha, Lin Jarvis, juga sudah membuat semuanya menjadi jelas bahwa Lorenzo dan Rossi akan mendapat dukungan yang sama. Dengan demikian, kedua mantan juara dunia tersebut akan bertarung secara fair.
"Meskipun Jorge sudah menjadi nomor satu karena performanya saat ini dan potensi masa depannya, kami akan memperlakukan kedua pebalap sama. Mereka akan mendapatkan dukungan yang sama, demikian juga perhatian dan ketersediaan suku cadang."
Akan tetapi, untuk pengembangan motor tahun 2013, Yamaha sudah memastikan bahwa Lorenzo akan menjadi pemimpin. Demikian penuturan pemimpin proyek Yamaha YZR-M1, Kouichi Tsuji, saat GP Ceko di Brno, pekan lalu.
Rossi Tak Yakin Bisa Saingi Lorenzo di 2013
Valentino Rossi mengakui, dirinya ragu apakah bisa menandingi Jorge Lorenzo ketika kembali bergabung dengan Yamaha pada MotoGP musim 2013. Karena itu, juara dunia tujuh kali MotoGP tersebut tak memasang target muluk. Hanya dengan bersaing di barisan depan saja sudah menjadi hal yang menggembirakan.
Melihat penampilan Lorenzo yang begitu impresif bersama tim "garpu tala" tersebut, Rossi tak mau bermimpi untuk kembali menjadi juara dunia. Peraih sembilan gelar juara dunia grand prix tersebut mengatakan, tujuan utamanya pada musim depan adalah lebih pada menikmati lomba dan mengevaluasi kembali kemampuannya yang sudah luntur dalam dua musim terakhir.
Melihat penampilan Lorenzo yang begitu impresif bersama tim "garpu tala" tersebut, Rossi tak mau bermimpi untuk kembali menjadi juara dunia. Peraih sembilan gelar juara dunia grand prix tersebut mengatakan, tujuan utamanya pada musim depan adalah lebih pada menikmati lomba dan mengevaluasi kembali kemampuannya yang sudah luntur dalam dua musim terakhir.
Saya rasa, akan sulit bagi saya untuk mengalahkannya. Namun, yang terpenting adalah menikmatinya, dan terutama memiliki kesempatan untuk bertarung memperebutkan posisi bagus untuk meraih hasil-hasil penting.
-- Valentino Rossi
"Setelah menjalani dua tahun yang sulit dan keras, saya tidak yakin bisa cepat seperti Lorenzo bersama Yamaha," ujar Rossi, seperti dikutipAutosport, Rabu (19/9/2012).
"Bagi saya, yang penting harus sangat berkonsentrasi pada diri sendiri dan berusaha memahami bagaimana potensi saya di tahun-tahun mendatang.
"Lorenzo mungkin merupakan pebalap terbaik, dan menjalani banyak lomba yang luar biasa bersama motor M1. Saya rasa, akan sulit bagi saya untuk mengalahkannya. Namun, yang terpenting adalah menikmatinya, dan terutama memiliki kesempatan untuk bertarung memperebutkan posisi bagus untuk meraih hasil-hasil penting dan memperbaiki motor dari level ini, dan menjalani sejumlah balapan yang bagus dari awal hingga akhir."
"Saya tahu ini akan sulit, tetapi inilah targetnya."
Rossi juga kembali menepis potensi antara dirinya dan Lorenzo, mengingat hubungan buruk mereka pada masa lalu, ketika masih satu tim di Yamaha dari 2008 hingga 2010. Menurutnya, potensi timbul masalah bakal sangat sedikit lantaran Lorenzo sangat terbuka untuk menerimanya kembali ke tim Jepang tersebut.
Meskipun dia khawatir tak bisa menyaingi Lorenzo, Rossi merasa bahwa kesulitan utama yang membuatnya meninggalkan Ducati adalah kegagalannya dalam mempertahankan "pernikahannya" dengan tim Italia tersebut. Padahal, di awal keputusannya, dia sangat bangga bisa mempersatukan seorang pebalap Italia dengan motor Italia.
"Saya harus bilang bahwa kami sangat sedih karena sudah memberi semaksimal mungkin, tetapi kami tidak meraih hasil memuaskan. Kami menjalani sejumlah balapan bagus, terutama tahun ini, saat balapan basah di Le Mans, ketika ada di peringkat kedua dan memenangi pertarungan dengan Stoner," ungkap Rossi.
"Anda tahu, bagi saya mengambil keputusan ini untuk tahun depan sangatlah berat karena di Ducati saya tahu begitu banyak orang, dan juga Audi datang, serta tentu saja Ducati akan banyak berubah, situasinya, pada tahun-tahun mendatang."
"Pengalaman ini, petualangan ini, sudah sejak awal sangat sulit dan disayangkan, kami tidak mampu mengatasi masalah selama satu setengah tahun ini. Saya pun tidak pernah kompetitif dengan motor ini."
"Kami tidak mampu membuat cukup grip dari ban depan dan kontak yang cukup dengan tanah. Ini menjadi masalah terbesar sejak tes Valencia pada 2010. Setelah dua tahun pun kami masih mengalami masalah serupa."
"Namun, saya membuat keputusan karena, pada titik ini dalam karier saya, saya harus berusaha dan memiliki motor yang lebih kompetitif, motor terbaik; dan pada akhirnya saya membuat keputusan untuk alasan ini."
"Momen yang keras dan sulit sangat penting untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih tangguh. Saya cukup banyak mengalaminya selama periode ini, ketika kami sudah mencoba segalanya tetapi tidak cukup.
damdy
Selasa, 18 September 2012
Pebalap Australia Casey Stoner ternyata memendam keinginan untuk menjajal balap mobil setelah dia mundur dari ajang MotoGP akhir musim ini.
Pebalap berusia 26 tahun itu kini tengah berada dalam masa pemulihan usai pengobatan cedera kakinya.
"Saya berharap bisa mencoba balapan mobil. Itu adalah impian saya sejak lama," kata Stoner kepada stasiun televisi Australia, Channel Seven, Rabu (18/9/2012) malam
"Saya sangat menyukai balapan V8 sejak saya berusia 12 atau 14 tahun. Di masa depan saya akan berada di sirkuit," katanya saat ditemui saat tengah menonton balapan Sandown 500 V8 Supercars dekat Melbourne, Australia.
Stoner tak bisa mengikuti dua seri MotoGP setelah tulang pergelangan kakinya patah akibat kecelakaan dalam babak kualifikasi di Indianapolis.
Dia berharap bisa pulih saat GP Australia digelar 28 Oktober mendatang di sirkuit Phillip Island. Di sirkuit ini, Stoner selalu menjadi juara dalam lima tahun terakhir.
Dan pebalap tim Repsol Honda ini optimistis pemulihan cederanya berjalan dengan sangat baik.
"Saya ditangani dokter bedah yang hebat. Dia melakukan pekerjaan hebat dengan luka yang sangat minim. Sehingga waktu pemulihan jauh lebih cepat," kata Stoner.
Soal peluangnya di Phillip Island nanti, Stoner mengaku peluangnya untuk meraih kemenangan keenam berturut-turut di kandang sendiri akan lebih berat.
"Peluangnya sangat berat. Namun yang jelas saya akan ada di sana. Meski mereka harus mengikat saya di atas motor," katanya sambil bercanda.
Pebalap berusia 26 tahun itu kini tengah berada dalam masa pemulihan usai pengobatan cedera kakinya.
"Saya berharap bisa mencoba balapan mobil. Itu adalah impian saya sejak lama," kata Stoner kepada stasiun televisi Australia, Channel Seven, Rabu (18/9/2012) malam
"Saya sangat menyukai balapan V8 sejak saya berusia 12 atau 14 tahun. Di masa depan saya akan berada di sirkuit," katanya saat ditemui saat tengah menonton balapan Sandown 500 V8 Supercars dekat Melbourne, Australia.
Stoner tak bisa mengikuti dua seri MotoGP setelah tulang pergelangan kakinya patah akibat kecelakaan dalam babak kualifikasi di Indianapolis.
Dia berharap bisa pulih saat GP Australia digelar 28 Oktober mendatang di sirkuit Phillip Island. Di sirkuit ini, Stoner selalu menjadi juara dalam lima tahun terakhir.
Dan pebalap tim Repsol Honda ini optimistis pemulihan cederanya berjalan dengan sangat baik.
"Saya ditangani dokter bedah yang hebat. Dia melakukan pekerjaan hebat dengan luka yang sangat minim. Sehingga waktu pemulihan jauh lebih cepat," kata Stoner.
Soal peluangnya di Phillip Island nanti, Stoner mengaku peluangnya untuk meraih kemenangan keenam berturut-turut di kandang sendiri akan lebih berat.
"Peluangnya sangat berat. Namun yang jelas saya akan ada di sana. Meski mereka harus mengikat saya di atas motor," katanya sambil bercanda.
Tak lebih dari dua bulan lagi, Valentino Rossi akan segera meninggalkan Ducati untuk kembali bergabung dengan Yamaha. Meskipun demikian, "The Doctor" masih terus bekerja untuk mengembangkan Desmosedici, sehingga lebih kompetitif pada musim 2013.
Rossi ingin meninggalkan kenangan manis bagi tim yang bermarkas di Bologna tersebut. Karena itu, juara dunia tujuh kali MotoGP tersebut tak keberatan untuk tetap memainkan peranan penting dalam pengembangan motor, yang kelak akan menjadi musuhnya.
Akhir pekan lalu di Sirkuit Misano, San Marino, Rossi sukses memberikan harapan baru kepada Ducati, yang memang sangat tidak kompetitif dalam dua musim terakhir. Menggunakan sasis baru dan lengan ayun baru, pebalap Italia ini berhasil mengantarkan Ducati naik podium nomor dua, yang menjadi hasil terbaiknya di lintasan kering sejak bergabung pada 2011.
Sehari berselang, Senin (17/9), Rossi melakukan uji coba lagi di sirkuit yang sama. Kali ini, pebalap berusia 33 tahun tersebut menggunakan sasis baru dengan geometri yang sama, tetapi memiliki kekakuan berbeda. Peraih sembilan gelar juara dunia grand prix ini juga mencoba lengan ayun baru, yang mana dia lebih terkesan dengan perubahan grip dan akselerasi.
Rossi, yang menyelesaikan 53 lap, mengatakan, "Kami mencoba sasis berbeda, yang memiliki kekakuan berbeda. Tetapi jujur, saya tidak terlalu suka. Memang ada beberapa perbaikan di beberapa bagian, tetapi kami juga memiliki sejumlah masalah di bagian lagi."
"Pada akhirnya, bukan perbaikan yang sesungguhnya, sehingga saya tidak berpikir kami akan menggunakannya lagi. Tetapi hal positif adalah, kami mencoba lengan ayun baru yang saya sangat suka, karena memberikanku daya cengkeram yang lebih, begitu pula dengan grip ban belakang saat akselerasi. Ini membantu motor menjadi lebih stabil saat keluar tikungan."
"Jadi dari dua hal itu, satunya bekerja. Saya pikir kami akan mulai menggunakan lengan ayun baru itu di Aragon, sehingga di sana kami akan melihat bagaimana potensi kami di trek yang lain."
Valentino Rossi menegaskan bahwa dia takkan menyesal meninggalkan Ducati walaupun Desmosedici semakin kompetitif. "The Doctor" mengakui, dirinya tak pernah berpikir ulang untuk bertahan di Ducati, setelah finis di posisi kedua pada GP San Marino, Minggu (16/9/2012), yang menjadi penampilan terakhirnya bersama Ducati di depan fans Italia.
Hasil di Sirkuit Misano itu merupakan pencapaian terbaik Ro
ssi
bersama Ducati di lintasan kering sejak dia bergabung dengan tim Italia
tersebut pada 2011. Juara dunia tujuh kali MotoGP ini finis di belakang
pebalap Yamaha, Jorge Lorenzo, dan terpaut 4,4 detik dari pimpinan
klasemen sementara tersebut.
Tampaknya, pengembangan yang dilakukan Ducati mulai menuju ke arah yang benar. Penggunaan sasis baru serta lengan ayun baru dalam balapan tersebut memperlihatkan kemajuan yang cukup signifikan. Akan tetapi, Rossi tak bisa lebih lama menikmati hasil pengembangan tersebut karena musim depan dia sudah kembali bergabung dengan Yamaha untuk menjadi tandem Lorenzo.
"Sayang sekali, di MotoGP kami mulai membicarakan tentang tahun depan terlalu cepat. Jadi, kami harus membuat keputusan lebih awal dalam sebuah musim," ujar Rossi seperti dilansir Crash.net, Senin (17/9/2012).
"Tetapi, tidak (berpikir lagi). Pilihan sudah diambil untuk tahun depan dan sekarang bagiku, ini sangat penting untuk mencoba dan memperbaiki motor, serta membuat sejumlah hasil yang lebih baik dari sekarang hingga akhir karena itu berarti pekerjaan kami bagus."
"Juga, jika para pebalap lain bisa menggunakan Ducati untuk melawanku (tahun depan) maka itu merupakan hal yang positif."
Meskipun meraih hasil bagus di Misano, Rossi, yang mengambil keuntungan dari penggunaan sasis baru dan lengan ayun baru di balapan tersebut, menepis peluangnya untuk memenangi lima seri terakhir. Akan tetapi, dia merasa motivasinya akan lebih tinggi lagi.
"Jika aku bisa (menang) maka itu akan menjadi hal yang hebat bagiku dan juga bagi Ducati," ujarnya. "Aku tidak tahu karena Lorenzo, Pedrosa, dan Stoner tahun ini sangat cepat. Hari ini semuanya bagus, tetapi kami masih 4,4 detik (dari pemenang) sehingga kami harus bekerja lagi."
"Setiap balapan memiliki kisah berbeda, tetapi bisa datang ke sirkuit dengan motivasi yang bagus, sadar bahwa mungkin bertarung untuk hasil bagus, banyak mengubah sesuatu."
Ketika diminta mengklarifikasi komentarnya yang lebih awal tentang para pebalap MotoGP harus memutuskan masa depannya lebih awal dalam sebuah musim, Rossi, yang mengonfirmasi dirinya kembali bergabung dengan Yamaha pada 10 Agustus lalu mengatakan,
"Setelah tiga atau empat balapan pertama, setiap orang di MotoGP mulai berbicara tentang tahun depan. Bagiku, itu terlalu cepat. Memulai pembicaraan setelah Brno (Agustus), seperti 10 tahun lalu, lebih baik."
"Tetapi, ini seperti sekarang dan aku tidak ingin mengubah pilihanku untuk tahun depan."
Hasil di Misano itu merupakan podium ketiga Rossi bersama Ducati, sejak dia datang dari Yamaha pada awal musim 2011. Tambahan 20 poin dari seri ke-13 tersebut membuat Rossi, yang tampil dengan helm desain khusus yang menggambarkan dirinya sebagai petinju dan sedang bersandar di tali ring, naik ke posisi keenam klasemen sementara
Tampaknya, pengembangan yang dilakukan Ducati mulai menuju ke arah yang benar. Penggunaan sasis baru serta lengan ayun baru dalam balapan tersebut memperlihatkan kemajuan yang cukup signifikan. Akan tetapi, Rossi tak bisa lebih lama menikmati hasil pengembangan tersebut karena musim depan dia sudah kembali bergabung dengan Yamaha untuk menjadi tandem Lorenzo.
"Sayang sekali, di MotoGP kami mulai membicarakan tentang tahun depan terlalu cepat. Jadi, kami harus membuat keputusan lebih awal dalam sebuah musim," ujar Rossi seperti dilansir Crash.net, Senin (17/9/2012).
"Tetapi, tidak (berpikir lagi). Pilihan sudah diambil untuk tahun depan dan sekarang bagiku, ini sangat penting untuk mencoba dan memperbaiki motor, serta membuat sejumlah hasil yang lebih baik dari sekarang hingga akhir karena itu berarti pekerjaan kami bagus."
"Juga, jika para pebalap lain bisa menggunakan Ducati untuk melawanku (tahun depan) maka itu merupakan hal yang positif."
Meskipun meraih hasil bagus di Misano, Rossi, yang mengambil keuntungan dari penggunaan sasis baru dan lengan ayun baru di balapan tersebut, menepis peluangnya untuk memenangi lima seri terakhir. Akan tetapi, dia merasa motivasinya akan lebih tinggi lagi.
"Jika aku bisa (menang) maka itu akan menjadi hal yang hebat bagiku dan juga bagi Ducati," ujarnya. "Aku tidak tahu karena Lorenzo, Pedrosa, dan Stoner tahun ini sangat cepat. Hari ini semuanya bagus, tetapi kami masih 4,4 detik (dari pemenang) sehingga kami harus bekerja lagi."
"Setiap balapan memiliki kisah berbeda, tetapi bisa datang ke sirkuit dengan motivasi yang bagus, sadar bahwa mungkin bertarung untuk hasil bagus, banyak mengubah sesuatu."
Ketika diminta mengklarifikasi komentarnya yang lebih awal tentang para pebalap MotoGP harus memutuskan masa depannya lebih awal dalam sebuah musim, Rossi, yang mengonfirmasi dirinya kembali bergabung dengan Yamaha pada 10 Agustus lalu mengatakan,
"Setelah tiga atau empat balapan pertama, setiap orang di MotoGP mulai berbicara tentang tahun depan. Bagiku, itu terlalu cepat. Memulai pembicaraan setelah Brno (Agustus), seperti 10 tahun lalu, lebih baik."
"Tetapi, ini seperti sekarang dan aku tidak ingin mengubah pilihanku untuk tahun depan."
Hasil di Misano itu merupakan podium ketiga Rossi bersama Ducati, sejak dia datang dari Yamaha pada awal musim 2011. Tambahan 20 poin dari seri ke-13 tersebut membuat Rossi, yang tampil dengan helm desain khusus yang menggambarkan dirinya sebagai petinju dan sedang bersandar di tali ring, naik ke posisi keenam klasemen sementara
Bermimpilah setinggi-tingginya dan wujudkanlah mimpi itu. Kalimat itu bisa menggambarkan usaha seorang bocah yang lahir pada 10 april 1999 silam untuk mewujudkan mimpinya menjadi pebalap dunia.
“Pingin seperti Lorenzo. Meraih prestasi di balapan dan bawa nama Indonesia balapan di luar negeri,” cetusnya.
Lahir dari keluarga pebalap, Galang Hendra Pratama (56)seperti mewarisi skill dan keberanian sang ayah, Dicky Hestu, untuk melumat setiap trek balap dan mengalahkan lawan-lawannya. Tak peduli dengan lawan-lawan yang notabene memiliki usia dan pengalaman lebih banyak dibanding dirinya, fokusnya hanya satu, berprestasi dan meraih podium.
“Yah, biasa ajah balapan lawan orang gede (pebalap senior), yang penting saya fokus dan balapan dengan sebaik-baiknya,” tukas siswa kelas 3 SMP ini.
Kendati usianya masih terbilang sangat muda, Galang yang bergabung dalam tim balap YAMAHA FDR NHK YONK JAYA ini sering naik podium di tiap lomba balap yang dia ikuti. Semakin banyak mengikuti ajang balap, diakuinya akan semakin memupuk mental dan kemampuan balapnya sekaligus langkah untuk menuju kancah balap internasional.
Untuk mewujudkan mimpinya, anak berusia 12 tahun ini juga sering berlatih di sirkuit Mandala Krida, Yogyakarta.
Menjadi pebalap merupakan karir yang ingin ditempuh Galang. Tapi membalap tanpa dibekali ilmu pengetahuan yang cukup, bisa jadi akan sia-sia terlebih cita-citanya adalah menjadi pebalap internasional. Karena itu, sepadat apa pun jadwal balapnya, menuntut ilmu juga hal harus diprioritaskan.
“Saya juga tetap sekolah dan belajar. Untungnya sekolah memberi keringanan kalau ada jadwal balapan di luar kota. Saya ingin tetap sekolah dan membalap supaya bisa menjadi pebalap yang handal dan berprestasi,” paparnya.
“Saya juga berharap bisa mendapat dukungan terus dari Yamaha dan bisa mengikuti kejuaran-kejuaran balap motor di tanah air
Langganan:
Postingan (Atom)















